Kunjungan ke Instruktur Sepuh
Hajatan akbar tiga tahunan IAPKKT usai sudah. Berbagai kesan dan kenangan manis bagaikan terulang kembali, dihadirkan di depan mata dan diresapkan ke dalam sanubari. Tak terhitung kata terucap untuk menyatakan perasaan rindu kepada sahabat dan para guru. Pun, deretan kata tak cukup nampaknya untuk menyampaikan rasa takzim dan hormat kepada para guru kami.
Maka, tercetuslah sebentuk keinginan hati untuk kembali berjumpa dan bersilaturrahmi dengan para guru. Tang ting tung teng tong disusunlah rencana untuk suatu kunjungan yang diharapkan mampu mengobati kekurangan dan kelalaian kami para siswa dalam menjamu para guru pada perhelatan akbar di TMII.
Akhirnya, terwujud juga kunjungan bersejarah itu. Ditetapkanlah hari dan tanggal perhelatan tersebut, Sabtu - 9 Januari 2010.
Tak lupa kami laksanakan juga usulan para alumni untuk menggalang donasi untuk para instruktur sebagai wujud rasa terima kasih kami.
Setelah dilakukan penggalangan donasi selama 2 minggu, maka didapatlah hasil yg cukup mengesankan yakni pada kisaran Rp. 28 jutaan. dan 4 buah Mug untuk souvenir (sampai dgn Sabtu pagi).Dari hasil donasi ini, kami belikan sekedar oleh-oleh berupa buah dan juga batik (batik keris) untuk oleh-oleh, selebihnya kami bagi rata menjadi 6.8 juta untuk masing2 instruktur.
Sabtu pagi jam 8 kami berkumpul di area parkir Siemens Pulomas. Ada Aries dan Nano (L19), Muaz (L28), Suhe (L25), Budi (L21), Karso (L22), Pak Syafrudin (L2). Pak Rudi (L9) dan Pak Tuhu (L12). Satu orang rekan, Efendi alias Pepen (L22) terpaksa mengundurkan diri karena istrinya sakit. Lengkap sudah peserta kunjungan kali ini.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 ketika terjadi sedikit kericuhan, karena donasi yg tadinya didapat dan dibagi kok malah bertambah sehingga kami harus menghitung ulang pembagian. Akhirnya, kesalahan hitung itupun kami selesaikan.
Tepat jam 10.00, kami meluncur ke target pertama yaitu kediaman Pak Dharma. Rumah elok nan asri di bilangan Cipinang, Jl Citalasari. Kata pak Dharma pada kesempatan waktu "saya bangun rumah seperti payung, jadi ada atapnya trus banyak jendelanya, jadi sirkulasi udaranya bagus."
Kami dipersilahkan masuk kedalam, dan kami pun bertatap muka dengan beliau. Pak Dharma sudah sepuh, berjalan pun sangat pelan, tapi pancaran matanya menandakan rasa senang yg luar biasa atas kunjungan ini... "Saya sangat senang dengan kunjungan ini.. Dan juga saya sangat senang karena kalian pada jadi orang semuanya..".. kemudian suasana akrab terjalin begitu indah.. Dan ketika sampai pemberian souvenir dan donasi, beliau bilang "Terima kasih.." pada akhirnya kami pun ingin pamitan, tapi di cegah untuk makan suguhan yg telah disediakan olehnya.. Akhirnya kami pun menyantap suguhan tersebut dan setelahnya kami pun pamitan.. Beliau pun mengantar sampai depan rumahnya.. ehm..luar biasa..
Usai dari rumah Pak Dharma, kami pun melanjutkan perjalanan menuju target berikutnya, yaitu rumah Pak Djoni.. daerah sekitar Bukit Duri Tanjakan..
Di rumah sederhana di pinggir jalan Bukit Duri itu kami bersilaturahim, kami pun dipersilahkan masuk. "Bapak sedang Sholat" kata salah seorang anaknya. "Silahkan tunggu sebentar".
Tak lama menunggu Pak Djoni pun muncul, berkoko putih, terlihat segar karena terpaan air wudhu. Satu persatu kami pun menyalami beliau. Satu jurus kemudian kami duduk bersila membentuk lingkaran elips. Berbincang tentang masa lalu. Kemudian tak disangka dan tak dinyana Pak Santoso L1 pun muncul.. wah jadi seneng karena ada tambahan pengunjung..
Berdasarkan cerita Pak Djoni bahwa Pak Ali Sadikin (mantan gubernur Jakarta) pada suatu kesempatan meminta kepada Siemens agar memberikan pendidikan kepada warga sekitar sehingga warga sekitar menjadi ter-up grade.. Pada saat itu Siemens masih berada di daerah Kebon Sirih - Jakarta (dekat Gambir). Institusi inilah yg kemudian menjadi cikal bakal PKKT, berkat permintaan salah seoarang besar di Jakarta. Terima kasih Bang Ali jika ini benar adanya.
Cerita ngalor ngidul tentang banyak hal, mulai dari pengalaman beliau sebagai orang proyek sampai menjadi guru/instruktur di PKKT. sampai dengan pengalaman beliau ketika mendapat rezeki untuk dapat pergi ke tanah suci.. Beliau pun memperlihatkan photo2 jadul beliau ketika di Siemens/ PKKT.. kami pun sempat meminjam untuk dapat di scan untuk file IA PKKT.
Kemudian ia bercerita perihal buku tentang Jati Diri manusia yg sesungguhnya.. "Bapak kopi-in bukunya ya, nanti dibagi2" beliau menawarkan. "OK Pak" kata kami akur dengan pendapat beliau.
Beberapa waktu kemudian kami pun menyerahkan souvenir dan donasi kepada Pak Djoni, beliau terlihat senang, bercampur terkejut. Spontan beliau membaca surah Al-Fatihah, dilanjutkan dengan doa.
"Terima kasih", lanjutnya. Setelah itu kami pamit untuk meneruskan perjalanan ke target berikutnya.
Target berikutnya adalah rumah Pak Suprapto dibilangan Kebayoran Lama.. kami pun meluncur kesana.
Rumah berada di pojokan tikungan Jl Jiban 2, terlihat banyak pohon di halaman rumah dan garasi mobil. Pak Suprapto sendiri yang membukakan pintu gerbang untuk kami, senyum sumringah tampak di wajahnya.. bercelana sedengkul dgn memakai Tshirt.. sangat sederhana.. Mobil Toyota Kijang kotak generasi awal terparkir di garasi, berwarna putih, bodi terawat, orisinil, tangan pertama.. keren euy!!
"Ayo masuk-masuk" kami pun dipersilahkan masuk ke rumah, kami duduk di teras rumah dan mulai bercengkerama.. Tak lama istri dari Pak Suprapto bergabung dgn kami..
Ternyata ada salah seorang dalam rombongan kami malah bernostalgia, kayak nya sih dia "ngincer"salah seorang anaknya Pak Suprapto tapi gak kesampaian .. he..he.. Cerita berlanjut "Saya dulu tuh malah pernah buat data ttg anak PKKTL , mulai dari Angkatan, nama dan tgl lahir nya, tapi saya gak tau sekarang ada dimana tuh??" wah ternyata beliau udah lebih dulu memperhatikan masalah data alumni.
Pak Rudi (L9) bercerita bahwa dulu pak Suprapto tuh megang "tabungan" anak2 PKKTL, dan dia yg suka ngutangin anak2 PKKTL kalo lagi butuh duit.. tapi ternyata butuh duitnya bukan bakal bayar makan atau bayar kos-an tapi malah bakal main bilyar!! ha..ha.. dasar PKKTL, ada aja akalnya..
Seakan waktu terasa kurang, tapi kita punya target terakhir yg harus di kunjungi.. kami pun pamitan..
Kunjungan terakhir adalah rumah Pak J. Rompas, di daerah Condet.. waktu sudah jam 3.30 sore.. kami pun tancap gas meluncur kesana..
Sampai rumah Pak Rompas sudah sekitar jam 5 sore. Kami diterima oleh istri dan anak kedua beliau. Kami masuk ke dalam rumah dan kemudian ke kamar beliau. Pak J Rompas.. instruktur kita yg terkenal tegas kini terbaring di tempat tidur, beliau sakit stroke, separuh kanan badan beliau lumpuh.. dan lidah beliau juga terkena stroke, sehingga tidak bisa berucap.. selang untuk asupan makanan tertancap di hidungnya. Menurut informasi dari Ibu Rompas, selang ini harus rutin diganti setiap dua minggu sekali.
Kamipun memperkenalkan diri kami satu persatu, Pak Rompas memandang kami silih berganti dengan pandangan tajam. "Pak Dharma titip salam buat Pak Rompas, dan pak Dharma terus berdo'a buat Pak Rompas" kata salah seorang kami kepada beliau. Suasana hening beberapa saat dan kemudian terdengar Pak Rompas berteriak-teriak.. arh..arrh.. entah sedih entah bahagia.. Istri beliau berusaha untuk menenangkan.. dan kami pun keluar dari kamar beliau sehingga ia dapat beristirahat kembali..
Satu yang pasti, kami diberitahu oleh Mas Rudi, putra kedua Pak Rompas bahwa tadi bapak sempat tersenyum. Hanya saja kami tidak terbiasa dengan beliau, sehingga kmi tidak bisa mendeteksi senyum beliau.
Akhirnya kamipun bercengkerama dgn Istri dan anak beliau di ruang tamu.. istri Pak Rompas berasal dari Klaten.. halus tutur katanya.. Salut untuk beliau yg sabar merawat Pak Rompas..
Sakit Pak Rompas ini sudah berlangsung cukup lama yaitu sudah 7 tahun.. pengobatan medis maupun alternatif sudah dilakukan tetapi tidak berhasil.. dan akhirnya diputuskan bahwa beliau dirawat di Rumah.
Tiap 2 pekan sekali, dokter pribadi datang ke rumah untuk mengganti selang di pak Rompas.. Asupan makanan hanya dilakukan dgn makan yg dihaluskan, dan dimasukan melalui selang..
Pak Rompas, pribadi yang selalu tegas, seakan menjadi momok setiap anak PKKTL. Tapi memang hanya terbatas di setiap waktu belajar saja.. lepas dari waktu belajar, beliau adalah prinbadi yg menyenangkan..
Donasi pun diberikan. Maghrib menjelang, kami pun pamitan pulang..
Usai sudah kunjungan kami kepada para instruktur sepuh kami, 4 orang instruktur dalam sehari.. cukup melelahkan memang.. tapi tentu saja senang.. kamipun pulang berpencar ke arah tujuan masing2...
Terima kasih para instruktur kami, sesungguhnya kalian telah menjadi salah satu mozaik kehidupan kami..
"Engkaulah samudra ilmu bagi dahaga kami. Engkaulah pembawa pelita dalam kegelapan kami. Terima kasih Guruku" (diambil dari tulisan yg ada di mug souvenir bagi para instruktur)
Demikianlah, secuil catatan perjalanan kami. Dan, ketika beberapa hari kemudian kami menerima kabar bahwa jumlah total donasi telah bertambah menjadi Rp. 32 juta, kami pun berucap syukur.
Kami telah menyaksikan bahwa alumni PKKT PT Siemens Indonesia adalah insan-insan yang tahu berterima kasih. Bukan sekedar kacang yang lupa akan kulitnya.
Terima kasih yg tak terkira atas segala perhatian dan donasi yg telah diberikan alumni IA PKKT, semoga hal ini dapat berguna bagi para instruktur kita.
1. Pak Dharma; Jl. Sitalasari 1, Cipinang Muara, Jakarta 13420. No. tlp. (021) 857 8357
2. Pak Djoni Djanakum; Jl. Bukit Duri Tanjakan No.12, RT15 RW 12, kelurahan Bukit Duri, Jakarta 12840. No. tlp. (021) 830 5432
3. Pak Suprapto; Jl. Jiban 2 RT 5 RW 1 No 3, kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta 12220. No. tlp. (021) 726 9274
4. Pak J. Rompas; Jl. Gardu, RT 1 RW 2 No. 1A, kelurahan Bale Kambang, Kec. Kramat jati, Jakarta 13530. No. tlp. (021) 808 76634