Reuni Akbar 2009

reuniSabtu, 31 Oktober 2009.

Tibalah hari yang telah lama kunantikan. Pada hari inilah aku kembali bertemu dengan teman-teman lamaku, para suhu alias para instruktur, beberapa kumpulan kakak serta beberapa rombongan adik kelas. Hari ini adalah hari Reuni, ya, Reuni Akbar ke-empat sepanjang sejarah Ikatan Alumni Pendidikan Khusus Kejuruan Teknik.
Selepas subuh, aku bergegas bersiap diri untuk menyongsong acara di hari bahagia ini. Kukenakan kaos seragam Reuni Akbar yang telah ditetapkan sebagai dresscode. Aku bersyukur tempat kerjaku dekat dengan Pulomas, pusat kegiatan panitia, sehingga aku bisa menukar bukti transfer iuranku dengan kaos terlebih dahulu. 

Menurut info dari Panitia, kaos ini diproduksi oleh alumni juga lho.. Mereka tergabung dalam DEAL (Danny, Efri, Agung, dan Lutfi) terbukti sukses menyediakan 245 kaos seragam untuk reuni kali ini. Aku tahu dari milis bahwa acara akan dimulai pukul08.30 pagi bagian barat waktu indonesia, karenanya kusempatkan untuk sarapan dahulu di rumah.Tak lupa kuselipkan undangan reuni ke dalam koper, lalu kumasukkan koper ke dalam ransel. Setelah sarapan, akupun bergegas berangkat.

Pelan tapi pasti berpacu kendaraanku menuju Tempat Lokasi Reuni, Museum Listrik dan Energi Baru, Taman Mini Indonesia Indah.

Jam digital yang bertengger di pergelangan tanganku menunjukkan tepat jam 8 lewat 20 menit, diriku tiba di depan pintu masuk TMII, dari sini terlihat jelas kokoh berdiri tugu api Pancasila yang dahulu kuingat sebagai tempat berkumpulnya Pramuka dari seluruh persada Nusantara. Sejenak, perasaan deg-degan bercampur rasa rindu serta desir penasaran menyelimuti kalbu. Melihat begitu banyak bangunan-bangunan unik nan indah, membuatku makin penasaran, seperti apakah wujud acara reuni kali ini? Akankah seunik tempat yang dijadikan pilihan?

Kalau saja aku tidak melihat banner biru dengan logo IAPKKT, mungkin aku akan langsung menuju pintu masuk. Ternyata di pintu gerbang utama sudah ada beberapa manusia berkaos hitam yang bertugas menyambut kedatangan keluarga besar IAPKKT, oh ternyata mereka bagian dari panitia. Sempat kuhitung jumlahnya ada tiga orang, kebetulan aku kenal mereka semua.
Fatkul langsung aku kenali dari jenggot tipisnya, sedangkan Ochim yang langsung membidikku dengan Nikon Coolpix P5100 sudah sering kudengar namanya. Sosok yang terakhir adalah Ricky, yang belakangan aku tahu berperan sebagai Petani di pertunjukan kabaret Loro Jonggrang minta dibuatkan seribu tower pembangkit listrik!

Dengan sigap laksana oknum aparat berbadan tegap. Mereka menanyakan nama, jurusan, juga angkatan. Kemudian mereka memberikan peta lokasi
Museum Listrik dan Energi Baru. "Ehmm.. Cukup profesional juga nih Panitia," pikirku.

Dengan menghela nafas, kembali aku kokohkah tekad membulatkan niat, melaju menuju pintu gerbang TMII. Antrian lumayan panjang, oh tentu
saja, hari ini adalah Sabtu, hari keluarga-keluarga untuk berkumpul berbagi kebahagiaan. Kulihat senyum ramah penjaga gerbang yang membuatku
nyaman saat kutunjukkan "tiket undangan" reuniku. Sebagai peserta reuni, aku gratis masuk TMII. Tapi, aku tetap harus membayar 10.000 rupiah
untuk mobilku dan 2.500 rupiah untuk sebotol air mineral pengobat dahagaku. Tidak mengapa, iuran 75.000 rupiah adalah paket hemat untuk sebuah acara yang berjudul Reuni Akbar.

Kali ini adalah kali pertama setelah sepuluh tahun aku kembali mengunjungi TMII. Aku sudah lupa jalur dan jalan di sini, dan sepertinya sudah banyak perubahan terjadi pada tempat ini. Dengan mengikuti petunjuk pada peta yang disediakan panitia, ternyata tidaklah sulit menemukan TLR (Tempat Lokasi Reuni). Aku berhenti sesaat di persimpangan, aku melihat penanda arah yang cukup jelas tertempel di sebuah pohon. Di belakangku, sebuah mobil seperti tak sabar karena terhalang olehku. Akhirnya, tanpa harus bertanya, hampir sampai juga aku di TLR. Di persimpangan jalan kembali kulihat panitia berkaos hitam mengarahkan untuk melalui jalan belakang menuju Auditorium. Aku belum mengenal panitia yang satu ini, kelihatannya angkatan yang baru lulus, dan terpaut begitu jauh dengan tahun kelulusanku.

Eng ing eeeeeng.. This is it, aku memasuki Museum Listrik dan Energi Baru. Tapi, dimanakah kiranya lokasi tepatnya reuni berlangsung?

Saat memasuki area outdoor reuni, kulihat beberapa meja dengan taplak ungu berjajar rapi. Beberapa orang berkaos hitam kembali kulihat. Ada yang berdiri menyambut para tamu, ada yang sibuk merapikan termos-termos minuman, juga ada beberapa sedang mencoba sound system di panggung.
Spanduk biru terbentang menjadi background panggung, terbaca olehku REUNI AKBAR IV ditulis besar-besar, seolah mengucapkan selamat datang
menyambutku penuh suka cita. Suara musik yang ceria, memberikan semangat seperti suntikan endorfin langsung membuatku melupakan segala cemas dan deg-degan penasaran.

Kuparkir kendaraanku, dua orang panitia kemudian datang dengan senyum ceria membantuku parkir dengan baik dan benar juga tertib. Aku melangkah mengikuti arah yang ditunjuk Arga dan Muaz, dua orang yang tadi menjadi asistenku di area parkir. Kusempatkan berkenalan dengan mereka setelah aku turun dari mobil. Dari mereka pula, aku tahu bahwa rekan mereka yang berdiri di persimpangan jalan tadi ternyata adalah Yudha, satu angkatan dengan Muaz. Tanpa kusadari, aku sudah berdiri di depan meja dengan tanda "Registrasi" yang ditulis besar-besar pula. Aku disambut oleh penerima tamu. Dengan tanda nama sederhana yang mereka buat dengan kertas, kubaca nama mereka, Detta dan uh nama yang Indah. Dengan kaos hitam yang mudah dikenali, nampak serasi dengan senyum manis yang tak pernah lepas dari bibir mereka, dohh.

Kulihat juga beberapa orang lainnya dengan kaos hitam yang sama nampak sibuk mempersiapkan sesuatu. Meskipun sibuk, mereka masih sempat
melemparkan senyum terbaik mereka kepadaku. Aku merasa tersanjung. Tanpa sadar, sekali lagi aku bergumam, mereka nampak begitu profesional, tidak rugi kusisihkan margin tender tempo hari untuk sponsorship kegiatan ini, hehehe.

Lepas dari meja registrasi, aku mendapat sebuah pita merah cerah yang harus aku kenakan meskipun aku belum tahu kegunaannya untuk apa, aku
juga mendapat dua buah souvenir mungil namun cantik. Satu buah pin bundar bertuliskan Reuni Akbar IV, dan satu buah mouse pad SIEMENS. Aku
menyukai mereka.

Kusapukan pandanganku ke arah panggung, dan kulihat beberapa standing banner terpajang di sana. Ada yang putih bertuliskan SBC, hmm.. Jadi ini
ya banner milik Siemens Bikers Community. Tentunya aku tahu karena aku juga pernah ikut dalam kegiatan touring mereka ke Lembang. Kemudian
banner bergambar logo SIEMENS, serta satu lagi bergambar dua orang perempuan dan satu laki-laki. Kudekati dan kubaca banner kedua ini, aku langsung paham bahwa banner yang bertutur tentang Generation 21 ini tentulah sponsorship dari Corporate Communications PT Siemens Indonesia.
Spanduk terakhir yang kulihat adalah Allianz. Tanpa harus dijelaskan, kukira banyak yang tahu bahwa Allianz adalah juga perusahaan asal Jerman seperti Siemens (pencetus PKKT kami). Mungkin panitia sengaja menggandeng Allianz sebagai sponsor pada kegiatan ini.

Nampaknya, acara belum mulai. Aku hadir 15 menit lebih awal dari jadwal yang tertera pada brosur yang kucetak dari e-mail. Beberapa orang ternyata telah hadir lebih dulu sebelum kedatanganku. Mereka telah mengenakan kaos reuni berwarna putih khusus untuk peserta. Mereka duduk di kursi-kursi yang telah tersedia, ada juga yang berdiri di bawah pohon-pohon jambu nan rindang. Kulihat ada beberapa payung kecil. Di sana tersedia air putih juga air jeruk yang sepertinya segar. Ada kopi, dan ada juga bandrek! Tak kusangka kinerja panitia begitu kreatif seolah mereka tahu bahwa aku, seorang penikmat bandrek akan datang. Ya, bandrek telah menjadi minuman favoritku sejak masa kecilku. Ada juga makanan ringan, kacang-kacang, dan permen-permen. Pada salah satu tenda, jajanan pasar juga terlihat tertata dengan rapi, menggoda mereka yang belum sarapan, mengundang nafsu nggragas segera berkuasa.

Berhubung perutku sudah sedikit terganjal oleh masakan istriku di rumah, aku pun hanya menuangkan secangkir kecil kopi panas, lalu aku segera membaur dengan peserta lain. Di bawah naungan pohon jambu, di sana terdapat dua buah televisi yang sedang menayangkan video. Aku pun tersenyum saat kutahu, itu adalah video dokumentasi Reuni Akbar 3, di Anyer, yang sukses dilaksanakan 3 tahun yang lalu.

Sembari menunggu acara dimulai, aku mulai membaur dengan wajah-wajah yang kukenal. Ada juga beberapa wajah yang belum kukenal, mungkin karena begitu jauh jarak angkatanku dengan mereka. Ditemani sesajen makanan ringan, lumayan juga untuk menghabiskan waktu tunggu sambil bersenda gurau mengakrabkan diri satu sama lain. Ada canda eh susunya bocor tuh sambil menunjuk logo IAPKKT di kaos putih, dan memang ternyata
background putih memberi kesan basah pada kaos putih kami, benar-benar efek warna yang aneh..

Tak sengaja kulirik jam digital yang masih setia bertengger di pergelangan tanganku, waktu menunjukkan tepat pukul 9.00 bagian barat waktu indonesia, reflek kubalik undangan reuni dan di sana masih tertulis tegas dan jelas bahwa acara dimulai pukul 8.30 bagian barat waktu indonesia. Wah, ternyata ada keterlambatan jadwal pemberangkatan nih, eh, jadwal dimulainya acara, okelah kalau begitu..

Nampaknya panitia masih menunggu beberapa peserta yang masih di perjalanan. Memang, sudah ada beberapa peserta yang hadir tepat waktu, namun menurutku masih terlalu sedikit untuk segera memulai acara. Tak lama berselang, peserta dari Cilegon pun tiba di lokasi. Dengan lokomotif bro Riko dan akang Ardo, mereka terlihat begitu antusias dan bersemangat meski baru menempuh perjalanan panjang dari Cilegon nan jauh di mata.

Tak lama kemudian, terdengar suara sirine diikuti suara vokal yang nge-bass memanggil MC. Aha, ternyata yang menjadi MC adalah Acan. Tentu saja aku kenal Acan, karena dia adalah salah satu bakal calon ketua umum IAPKKT mendatang menggantikan ketum 'Talk Less, Do More', pak Gaol gitu loh, hehe. Acan tak sendirian, ditemani oleh Fauzan yang bersosok tinggi besar. MC naik panggung dan mulai mengumpulkan peserta ke lapangan rumput. Cuaca lumayan cerah, agak panas namun masih terasa segar.
Beberapa panitia berseragam hitam juga mulai sibuk merayu para peserta yang sedikit membandel sambil tetap melemparkan senyum terbaik mereka,
mirip adegan pengasuh yang membujuk bocah, hehe, bocah tua nakal, bocah yang sudah bisa bikin bocah, hohoho.

Tak luput dari perhatianku, seorang panitia dengan alat komunikasi nampak sibuk kesana kemari. Sepertinya, dia yang bertugas mengendalikan acara ini. Hei, dia menghampiriku. Setelah menyapa dan berbasa-basi, dia mengajakku berkenalan. Yang kutahu kemudian, namanya adalah Suhendra.

Dengan gayanya yang fresh, bersemangat dan tidak kaku, MC menyapa kami.. Yah, lumayan, aku juga tertular semangat sang MC. MC mengingatkan kami tentang tagline reuni kali ini, yaitu Bound Up in Brotherhood dengan cara yang sedemikian unik dan bersemangat. Tiba-tiba, MC meminta kami
untuk mengenali warna pita yang sebelumnya telah diberikan di meja registrasi. Rupanya, peserta mendapatkan warna yang berbeda-beda. Ada yang biru, kuning, dan aku mendapatkan warna merah.

Kemudian MC meminta para peserta yang memiliki pita warna merah untuk bertepuk tangan saat aba-aba tertentu ditunjukkan. Begitu juga warna
biru dan kuning yang harus bersuara tertentu sesuai aba-aba tertentu yang ditunjukkan. Dan tanpa kusadari, peserta begitu kompak membuat irama yang begitu seru dan menghentak. Ya, kami menjadi merasa kompak satu sama lain..!!

Ketika ketua panitia memberikan sambutan, kami pikir bakal membosankan, ternyata, tidak hanya singkat, sambutannya pun ternyata mampu menyalakan semangat kebersamaan para peserta. Sambutan Ketua IAPKKT (siapa yang tidak kenal Pak Indra Hutagaol ketum IAPKKT?) juga sederhana, nampaknya Pak Ketum masih memegang teguh prinsipnya 'Talk Less, Do More'

Oh iya, sebagai catatan bahwa beberapa mantan instruktur PKKT hadir pula pada acara ini. Kuacungkan jempol yang paling besar untuk Panitia yang
rela tidak mengikuti acara demi tugas kehormatan mengantar dan menjemput para instruktur sepuh. Ya bagaimana tidak, sejak pagi Budi dan Adhinata
memang telah berangkat lebih dahulu menjemput Pak Dharma, Pak Prapto, dan Pak Djoni.

Kedatangan mereka disambut dengan kemeriahan oleh alumni yang dulu sempat diajar dan dilatih oleh mereka. Kulihat para kakak alumni begitu antusias menyambut suhu mereka, mencium tangan mereka, dan berpelukan melepaskan kerinduan yang telah lama terpendam. Tsahh, melankolis mode on..

Kembali, MC muncul di atas panggung. Kali ini, tiba-tiba MC meminta perserta untuk sekali lagi melihat ke Pita. Ternyata, di Pita yang kukenakan, tertulis huruf B dan masing-masing peserta memiliki huruf yang berbeda-beda.. Lalu, dengan arahan dari panitia, kami dikumpulkan sesuai dengan peserta yang berhuruf sama. Ah, rupanya, sebentar lagi ada permainan kompetisi antar kelompok..! Ya, meskipun semua sungguh telah diatur sesempurna mungkin, hal ini cukup memberikan kejutan buat kami.

Ada dua permainan yang kami lakukan. Yang pertama, sangat efektif membuat kami menjadi bercampur satu dengan yang lain. Yang semula antar
angkatan tidak mengenal, kini kami dipaksa untuk mengingat nama-nama peserta yang unik-unik. Setelah kami dibagi kelompok berdasarkan warna
pita kami, kami diminta untuk membentuk grup lebih kecil lagi, dan kemudian ditugaskan untuk mengingat nama teman-teman kami dari grup lain.

Yang kedua tak kalah seru, kami benar-benar belajar arti kerjasama team, komunikasi yang efektif dan kami kembali belajar arti sudut pandang. Permainan ini disebut "Mudah Banget", karena memang mudah untuk dilakukan. Menggabungkan kemampuan observasi, komunikasi verbal,
kemampuan ruang dan dimensi, serta menuangkan kembali ke dalam bentuk gambar. Rekan kami yang lain harus membangun model sesuai dengan gambar yang telah dibuat oleh rekan lainnya. Bu Moi, instruktur Bahasa Inggris kami mendapatkan kehormatan untuk menjadi juri dalam permainan lomba kali ini.

Terpilihlah dua regu yang modelnya paling mirip dengan model yang dibangun panitia. Dua buah kotak yang dibungkus kertas bermotif batik berpindah tangan dari Nika, panitia bagian perlengkapan ke tangan para juara. Konon menurut MC, hadiahnya berisi HP Nokia seri terbaru, ternyata setelah dibuka, isinya wafer TOP dan Gery Chocolatos.. Mama mia lezatos.. Hehehe.. Ah.. Panitia kali ini dasar paling bisa!

Bravo.. Biarpun panas matahari benar-benar menyengat, tapi kami masih bersemangat..! Untunglah, biarpun sudah masuk bulan Oktober, hujan masih
malu-malu turun ke bumi. Eh ujan kok ngumpet aje.. Begitu kata Bang Benyamin Sueb. Keringat kami bercucuran karena panas dan aktivitas outdoor terbayar sudah oleh suguhan minuman koktail si buah segar..
Ahhh.. Rasanya tak cukup satu gelas deh.. [Thanks to Sie Konsumsi: Anti, Ratna, Lia, Memey juga Rumbi]

Tak terasa, matahari mulai beranjak semakin tinggi. Udara pun perlahan namun pasti mulai membuat naik level penunjukan thermometer analog pertanda temperatur lapangan rumput mulai tak sejuk lagi. Setelah lelah dengan permainan-permainan kompetisi, kami pun menikmati waktu istirahat. Kami dihibur oleh penampilan dari alumni PKKT yang memiliki bakat bermusik. Ternyata, meskipun mengalami penurunan kemampuan penglihatan karena kecelakaan beberapa tahun silam, Lutfi dari Mekanik angkatan 13 terbukti masih piawai memainkan nada-nada gitar dan bersenandung menghibur dan menemani waktu istirahat.. Engkau bukanlah segalaku.. Na na na na na na na na la la laa.. Dam dam dam dam dam dam dam.. Du bi du bi dam du bi dam dam dam.. Dan Ariel Peterpan pun tersenyum ganteng.

Pada waktu istirahat, kami diberi kesempatan untuk melakukan aktivitas bebas. Tak lupa, kepanitiaan kembali menghidangkan sekedar makanan ringan untuk kami. Ketika sedang enak-enaknya memamah biak, tiba-tiba pengeras suara kembali melengking memanggil kami untuk berfoto-foto.
Idih, ini sih sesi yang paling ditunggu-tunggu. Iyalah, kapan lagi bisa eksis di dunia maya kalau nggak lewat foto? Para alumni bergiliran naik ke panggung. Per angkatan, lalu kemudian semua peserta reuni berkumpul di arena outdoor untuk foto bersama. Say: Bunciiiiiiiiisssss...
Jepretzz!

Kulihat Dwi dengan Canon D50-nya sibuk mengambil foto dan mencoba sudut pengambilan yang unik dan kreatif. Novan juga tak kalah antusiasnya
mengabadikan momentum ini dengan video camera-nya. Kubayangkan, di keesokan hari foto-foto kami sudah terpampang di Facebook lengkap dengan segala komentar dan tag suka-suka. Wah.. Panitia reuni kali ini memang kagak maen-maen.. Semuanya legkap.. Kap.. Kap..!

Kami tersadar hari telah beranjak siang.. Tentu saja, karena perut kami telah memainkan orkestra keroncong tengah hari meskipun dari tadi telah
dijejali makanan kecil yang ringan itu.. Dan memang, panitia telah menyiapkan makan siang berbentuk prasmanan dengan menu makanan berat
yang demikian menggoda. Makan siang menjadi ajang ramah tamah yang santai..

Setelah makan siang dan sebagian besar dari kita menunaikan sholat dzuhur, kami masuk ke dalam auditorium. Betul, prosesi pemilihan ketua Umum IAPKKT akan segera dieksekusi. Dimulai dengan pembacaan Laporan Pertanggung Jawaban pengurus IAPKKT periode 2006-2009, dan sesi tanya jawab, acara berjalan dengan lancar. Setelah pembacaan LPJ, giliran para Balon Ketumbar naik ke atas panggung dan memaparkan visi dan misi
mereka. Untuk diketahui, ada empat balon ketumbar pada Pemilihan Ketua kali ini. Mereka adalah Rahmad Sumber Ngarasan (L21), Dudi Ahmad
Mauludin (M1), Karso Mujiono (L22), dan Safrizal (L19). Syukurlah, acaranya tidak bertele-tele. Bahkan tak jarang, beberapa joke ringan dari pembawa acara membuat suasana menjadi lebih hidup. Bahkan pemaparan visi, misi, program atau apapun itu namanya, juga berlangsung segar.

Ternyata para Balon punya cara penyampaian yang unik, masing-masing mampu memancing tawa dari para audiens. Ini jauh dari bayanganku semula,
yang menyangka acara Pemilihan Ketua Umum Baru atau Pil Ketumbar akan berjalan tegang dan membosankan (lucu juga ya akronimnya? Pil Ketumbar).

Pemungutan suara pun dilakukan secara langsung, jujur, dan adil seperti asas pemilu yang luber dan jurdil. Petugas pemungutan suara yang dikoordinir oleh mas Aries sibuk mengumpulkan kertas suara, dilanjutkan dengan penghitungan. Oom Witono, petugas tabulasi Pil Ketumbar dengan sigap memasukkan setiap vote yang dibacakan ke dalam tabulasi yang diproyeksikan ke layar putih. Ketua Umum akhirnya terpilih. Dari 152 suara, Rahmad Sumber Ngarasan mengantongi 70 suara, kemudian Safrizal dengan 44 suara. Berikutnya Karso dengan 22 suara dan diikuti Pak Dudi dengan 16 suara. Dengan demikian, RSN terpilih oleh forum menjadi Ketua Ikatan Alumni Pendidikan Khusus Kejuruan Teknik PT Siemens Indonesia periode 2009-2011. Kami merasa lega dan tidak ada yang berkeberatan.
Lagian, ngapaian juga mesti keberatan, toh jabatan ini memang "kering". Tidak seperti jabatan "Ketua Umum Partai tertentu" yang super buuuaaasah
gitu loh..

Dalam Pidato Perdana-nya, Pak Ketumbar yang lebih dikenal dengan Acan ini mengulangi lagi janjinya untuk mengumpulkan 90% data alumni selama
tiga tahun masa kepemimpinannya. Kami doakan, semoga Pak Ketumbar dapat mencapai target yang telah dicanangkan! Juga tak lupa Acan mendaulat Fadliyanto (L22), salah satu anggota This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. yang cukup aktif untuk menerangkan terjemahan bebas dari Bound Up in Brotherhood yang kebetulan diusulkan menjadi tagline reuni olehnya.

Beberapa alumni kemudian diminta untuk memberikan pesan dan kesan maupun sepatah dua patah kata menyambut terpilihnya Ketua IAPKKT yang baru. Di antaranya adalah mantan Instruktur Bapak Djoni Djanakum, Bapak Royanto Muliadi (L2), Pak Santoso (L1) dan Ibu Moi (eh bu, Amira mau dinikahkan usia berapa ya bu? Nih banyak alumni mapan yang masih lajang lho bu, hehe).

Bapak Lilik berbagi kisah kronologis up to date PKKT yang resmi dibubarkan pada Agustus 2009. Berawal dari reposisi institusi PKKT yang tadinya secara struktur organisasi berada dibawah BoD PTSI menjadi di bawah divisi P63. Lalu disampaikan pula bahwa PTSI memberikan kesempatan bagi manajemen PKKT untuk mandiri karena PTSI tidak lagi mendukung secara finansial. Beliau menyampaikan bahwa proses registrasi Politeknik Werner Von SIEMENS sedang di-evaluasi oleh Dinas Pendidikan Tinggi. PKKT bertransformasi menjadi Politeknik di bawah naungan Yayasan Werner Von SIEMENS. Pak Lilik mengutarakan kebimbangan hatinya atas bagaimana hubungan IAPKKT dengan Politeknik WVS di masa depan, karena secara hukum Politektik WVS adalah bukan PKKT lagi. Pak Lilik mengisyaratkan bahwa mungkin bisa dibuatkan hubungan semisal beasiswa Politeknik WVS atas sponsor IAPKKT. Maka menjadi tugas kepengurusan IAPKKT yang baru untuk memikirkan usulan ide dari pak Lilik tersebut.

Ada break, ada jajanan pasar. Trims sekali lagi buat Seksi Konsumsi.
Pilihan jajanan pasar-nya oke banget, sampai-sampai banyak yang nambah 2 lemper dan 2 kueh mangkok..

Setelah istirahat waktu ashar, kami diundang masuk kembali ke auditorium. Lalu pembawa acara mengatakan, sebentar lagi ada pertunjukan kabaret. Ah, belum apa-apa aku sudah tertawa. Bagaimana jadinya alumni PKKT yang teknis banget itu bermain pertunjukan kabaret?

Tiba-tiba, suara layaknya awal film membahana di dalam ruangan. Dan layar putih pun menampilkan gambar. Tak beberapa lama, suara lagu India
yang sangat familiar di telinga pun muncul dan.. Kuch Kuch Hota Hai.. Bandung Bondowoso (diperankan oleh Ridzwan, pengisi suara Eri) melamar
Loro Jonggrang (Detta). Panitia sekali lagi menunjukkan perhatian yang serius pada detail kabaret. Tentunya tiada lagu india tanpa tiang atau pohon bukan? Panitia menyediakan pohon imitasi untuk Bond, Bondowoso kita dan Jonggrang menari dan petak umpet di panggung. Aku tidak bisa menahan tawa dibuatnya..

Segar.. Dan lucu pastinya.. Apa iya syarat yang diajukan oleh Jonggrang bukannya candi sewu, tapi pembangkit listrik di Kalimantan! Fyuhh.. pertapa sakti mandraguna (Muaz) pun tak mampu membantu Bond, Dukun (Fatkul) juga cuma bisa menyembur nggak jelas, tanpa hasil. Apalagi kontraktor serbabisa (Susanto) yang bikinin lego buat anaknya saja tidak mampu. Dalam kebingungannya mencari bantuan, Bond pun teringat akan teman-temannya sesama alumni PKKT yaitu Bro Arga, Uda Argo yang berjualan nasi Padang, eksekutif muda Koh Suhe, jutawan Yudha, dan traveler Lia. Aha, mereka pasti bisa membantuku, pikir Bond. Dengan backsound Mission Impossible, Bond mengumpulkan teman-teman yang banyak di antaranya sudah sukses di dalam bisnis. Walhasil, pembangkit listrik pun berhasil dibangun, dan loro Jonggrang rela bersanding dengan Bond, Bondowoso. Idenya sederhana, tapi, penuh akan pesan-pesan tersirat bagi keluarga besar IAPKKT..

Dan ketika pertunjukan Kabaret selesai, aku pun sadar, acara reuni ini akan segera berakhir.. Peserta reuni yang mungkin merasa belum puas hanya bertepuk tangan bergegas berdiri dan memberikan standing ovation untuk pertunjukan kabaret yang luar biasa itu. Harus kuakui, aku menikmati pertunjukan itu.. Luar biasa dan terima kasih sekali lagi untuk segenap panitia.. Ada banyak hal yang membuat senang dan pastinya lebih banyak lagi yang bisa kukenang..

Kepada yang hadir, terima kasih atas waktu dan kesediaan kalian. Kepada pihak sponsorship dan donatur, terima kasih dan semoga kerjasama kita
yang baik ini dapat bekelanjutan di masa yang akan datang. Sekali lagi.. Terima kasih panitia.. Semoga tiada tanda tanya tersisa.. Terima kasih dari kami keluarga besar IAPKKT.